Jurnal Deliberatif https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif <p><strong>Jurnal Deliberatif</strong> adalah jurnal yang terbit dua kali dalam setahun: Juni dan Desember di bawah Jaringan Pemberdayaan Politik Lingkungan Hidup (Gardapoli), Indonesia. Jurnal ini bertujuan memperluas dan memperdalam wawasan mengenai isu hukum, politik, sumber daya manusia, dan lingkungan hidup.<br />Keberadaan Jurnal Deliberatif diharapkan menjadi opsi bacaan bagi masyarakat umum, terutama yang menaruh minat dengan hukum, politik, sumber daya manusia dan lingkugan hidup dan menjadi kebaruan atau temuan dari penelitian terutama yang berfokus kepada hukum, politik, sumber daya manusia, dan lingkungan hidup. Setiap artikel akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidangnya. Proses review bersifat double-blind dimana setiap reviewer tidak mengetahui identitas penulis dan sebaliknya penulis juga tidak mengetahui identitas reviewer.<br />Sebelum mengirimkan, harap pastikan bahwa naskah sesuai dengan fokus dan ruang lingkup Jurnal Deliberatif, ditulis dalam bahasa Indonesia dan abstrak ditulis dalam bahasa Inggris serta bahasa Indonesia, dan mengikuti pedoman penulis &amp; template naskah kami. Jika naskah yang dikirimkan tidak sesuai dengan pedoman atau menggunakan format yang berbeda, maka akan ditolak oleh tim redaksi sebelum ditinjau. Tim Redaksi hanya akan menerima naskah yang memenuhi persyaratan format yang ditentukan.</p> en-US adminojs@gardapoli.or.id (Administrator) journalmanager@gardapoli.or.id (Editor Deliberatif) Wed, 31 Dec 2025 00:00:00 +0000 OJS 3.3.0.13 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Paradoks Kesiapan Kerja dalam Konteks Keterlibatan dan Komitmen Pegawai https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/40 <p>Kesiapan kerja (job readiness) semakin menjadi isu strategis dalam pengelolaan sumber daya manusia, khususnya di organisasi sektor publik yang menghadapi dinamika perubahan kebijakan dan tuntutan kinerja yang tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menjelaskan paradoks kesiapan kerja, yaitu kondisi ketika keterlibatan dan komitmen pegawai berada pada tingkat tinggi, namun tidak berbanding lurus dengan kesiapan kerja yang dirasakan. Penelitian ini menggunakan pendekatan tinjauan literatur kritis yang diperkuat dengan analisis data sekunder dari Survei Opini Pegawai BPJS Kesehatan tahun 2024 sebagai konteks empiris. Hasil sintesis menunjukkan bahwa meskipun tingkat keterlibatan, kepuasan, dan komitmen pegawai berada pada kategori sangat tinggi, Indeks Kesiapan Kerja justru berada pada tingkat yang memerlukan perhatian. Analisis lebih lanjut mengungkap bahwa aspek psikologis-adaptif, khususnya persepsi diri (self-view) dan fleksibilitas, menjadi faktor utama yang melemahkan kesiapan kerja. Temuan ini menegaskan bahwa kesiapan kerja merupakan konstruk yang berdiri sendiri dan tidak dapat diasumsikan sebagai konsekuensi otomatis dari keterlibatan dan komitmen pegawai. Penelitian ini berkontribusi pada pengembangan literatur manajemen sumber daya manusia dengan memperkenalkan konsep paradoks kesiapan kerja sebagai kerangka analitis untuk memahami ketidaksinkronan antara sikap kerja afektif dan kesiapan adaptif pegawai. Secara praktis, hasil penelitian ini menekankan pentingnya strategi pengelolaan sumber daya manusia yang tidak hanya berfokus pada peningkatan keterlibatan dan loyalitas, tetapi juga pada penguatan kesiapan psikologis dan kompetensial pegawai.</p> Handihka Ramadhan, Sitti Rakhman Copyright (c) 2026 Handihka Ramadhan, Sitti Rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/40 Wed, 31 Dec 2025 00:00:00 +0000 Transformasi Sumber Daya Manusia Pialang Asuransi Indonesia https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/42 <p>This study explores the transformation and strategic challenges of human resources (HR) in non-life insurance brokerage and reinsurance companies in Indonesia, considering the digital era and current OJK regulations. The main issues identified include competency gaps among personnel, the low proportion of certified staff, and stagnating broker contributions to national premium distribution. The digitalization of business processes, the need to strengthen agile leadership, and increasing compliance pressure—especially with OJK Regulation Number 34 of 2024 regarding HR development investment—intensify the adaptation processes within organizations.</p> <p>A qualitative-descriptive approach was employed, combining literature review and secondary data analysis (OJK, AAUI, and BPS statistics 2022–2025), as well as benchmarking with international best practices and empirical studies. The results show that digital competency, adaptive HR governance, and synergistic ongoing training programs are pivotal drivers of HR transformation in local brokers towards global standards. Strategic recommendations encompass digital-based recruitment redesign, the implementation of compliance-driven HR audits, agile work culture development, and cross-association and global partnership collaboration.</p> <p>This study concludes that agility, digital literacy, and robust HR governance are the keys to ensuring the competitiveness and sustainability of Indonesian brokerage and reinsurance companies in regional and global insurance markets.</p> Angky Budi Sasongko, Sitti Rakhman Copyright (c) 2026 Angky Budi Sasongko, Sitti Rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/42 Wed, 31 Dec 2025 00:00:00 +0000 Workplace Bullying, Job performance, Affect-Based Trust, dan Job Stress: Sebuah Studi Literatur pada Industri Perbankan https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/41 <p><strong>Abstract</strong></p> <p><em>This study aims to analyze the relationship between Workplace Bullying, </em>Affect-Based Trust<em>, </em>Job Stress<em>, and </em>job performance<em> within the banking industry. The research background highlights the increasing work pressure, competitive culture, and hierarchical structure that characterize the banking sector conditions that often allow bullying behaviors to emerge. This study employs a literature review method, examining more than ten national and international empirical studies published within the last ten years. Data sources include academic journals, research reports, and other relevant scientific publications. The analysis identifies patterns among the variables based on documented empirical findings across various organizational settings. The results indicate that Workplace Bullying has a significantly negative impact on </em>Employee Performance<em>, both directly and through mediating variables. Affect-Based Trust tends to deteriorate in the presence of bullying, disrupting cooperation, communication, and interpersonal effectiveness. Job Stress emerges as the primary consequence of bullying and acts as a key mediator that amplifies its negative effect on performance. These relationships form an interconnected model that reflects a cascading effect that undermines the overall work environment in the banking sector.The study recommends strengthening bullying reporting mechanisms, fostering a culture of trust-based relationships, and implementing stress management programs to support emotional stability and sustain Employee Performance.</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara <em>Workplace Bullying</em>, <em>Affect-Based Trust, Job Stress</em>, dan <em>job performance</em> Industri perbankan. Latar belakang penelitian berangkat dari meningkatnya tekanan kerja, budaya kompetitif, serta struktur organisasi yang hierarkis di sektor perbankan yang seringkali memberi ruang bagi munculnya perilaku intimidatif. Studi ini menggunakan metode studi literatur dengan mengkaji lebih dari 10 penelitian nasional dan internasional dalam rentang sepuluh tahun terakhir. Sumber data berasal dari jurnal akademik, laporan penelitian, dan publikasi ilmiah yang relevan. Pendekatan analisis dilakukan dengan mengidentifikasi pola hubungan antarvariabel berdasarkan temuan empiris pada berbagai konteks organisasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa <em>Workplace Bullying</em> memiliki dampak negatif signifikan terhadap kinerja karyawan, baik secara langsung maupun melalui jalur mediasi. <em>Affect-Based Trust</em> terbukti menurun ketika <em>bullying</em> terjadi, sehingga menghambat kerja sama, komunikasi, dan efektivitas hubungan interpersonal. Selain itu, Job Stress menjadi konsekuensi utama <em>bullying</em> dan berperan sebagai mediator penting yang memperkuat pengaruh negatif tersebut terhadap kinerja. Kombinasi ketiga variabel ini menghasilkan model keterkaitan yang menunjukkan efek berantai yang merusak kualitas lingkungan kerja perbankan. Rekomendasi penelitian meliputi penguatan sistem pelaporan <em>bullying</em>, pengembangan budaya kerja berbasis kepercayaan, serta implementasi program manajemen stres untuk menjaga stabilitas emosional dan performa karyawan.</p> Kris Edwin Chandra, Rakhman Copyright (c) 2026 Kris Edwin Chandra, Rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/41 Wed, 31 Dec 2025 00:00:00 +0000 Evaluasi Pemilu Serentak Tahun 2024 dalam Perspektif Demokrasi dan Tata Kelola Pemilu di Indonesia https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/43 <p><strong>Abstract</strong></p> <p><em>The 2024 Simultaneous General Election represents the largest and most complex electoral event in the history of Indonesian democracy. For the first time, the elections for President and Vice President, members of the House of Representatives (DPR), Regional Representative Council (DPD), and Regional Legislative Councils (DPRD) at provincial and district levels were conducted simultaneously on a single day. This complexity has significant implications for electoral management, institutional capacity, voter participation, electoral integrity, and democratic consolidation. This article aims to comprehensively evaluate the implementation of the 2024 Simultaneous Election by examining regulatory frameworks, technical administration, the use of electoral technology, law enforcement, and its impact on democratic quality. Employing a qualitative-descriptive approach and policy analysis, this study finds that while the election was successfully conducted nationwide and remained relatively stable, several structural and technical challenges persist that may undermine substantive democracy. Therefore, electoral system reform and institutional strengthening are essential to improving future electoral quality in Indonesia.</em></p> <p><strong>Keywords</strong>: <em>2024 Simultaneous Election, Electoral Evaluation, Democracy, Electoral System, Indonesia</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Pemilu Serentak Tahun 2024 merupakan penyelenggaraan pemilihan umum terbesar dan paling kompleks dalam sejarah demokrasi Indonesia. Untuk pertama kalinya, pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, anggota DPR, DPD, DPRD provinsi, serta DPRD kabupaten/kota dilaksanakan secara bersamaan dalam satu hari pemungutan suara. Kompleksitas tersebut membawa implikasi serius terhadap manajemen pemilu, kapasitas penyelenggara, kualitas partisipasi pemilih, integritas proses elektoral, serta konsolidasi demokrasi. Artikel ini bertujuan untuk mengevaluasi pelaksanaan Pemilu Serentak 2024 secara komprehensif dengan menelaah aspek regulasi, teknis penyelenggaraan, pemanfaatan teknologi, penegakan hukum pemilu, dan dampaknya terhadap kualitas demokrasi di Indonesia. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif-deskriptif dengan analisis kebijakan dan fenomena empiris pemilu. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa meskipun Pemilu Serentak 2024 berhasil diselenggarakan secara nasional dan relatif stabil, terdapat berbagai persoalan struktural dan teknis yang berpotensi menurunkan kualitas demokrasi substantif. Oleh karena itu, diperlukan reformasi desain pemilu dan penguatan kelembagaan demokrasi untuk meningkatkan kualitas pemilu di masa mendatang.</p> <p><strong>Kata kunci</strong>: Pemilu Serentak 2024, Evaluasi Pemilu, Demokrasi, Sistem Pemilu, Indonesia</p> Bahrur Rosi Copyright (c) 2026 Bahrur Rosi https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/43 Wed, 31 Dec 2025 00:00:00 +0000 Rekonstruksi Mekanisme Rekrutmen Penyelenggara Pemilu (KPU dan Bawaslu), Menjamin Independensi dan Profesionalisme dalam Rezim Pemilu Serentak https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/44 <p>Abstrak: Artikel ini menganalisis mekanisme rekrutmen anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) dan Badan Pengawas Pemilihan Umum (Bawaslu) di Indonesia. Seiring dengan perubahan desain pemilu pasca-Putusan MK No. 135/2024, integritas penyelenggara menjadi kunci legitimasi hasil pemilu. Permasalahan utama yang muncul mencakup politisasi tim seleksi, dominasi kepentingan partai politik di DPR dalam fase <em>fit and proper test</em>, serta tantangan teknis penggunaan sistem informasi seleksi. Penelitian ini menggunakan metode normatif-empiris dengan pendekatan perundang-undangan dan studi kasus seleksi periode 2022-2027. Temuan menunjukkan adanya kebutuhan mendesak untuk mengubah mekanisme seleksi dari sistem yang sangat politis menuju sistem meritokratis yang lebih transparan dengan penguatan peran partisipasi publik sebagai "penjaga gerbang" integritas.</p> <p><em>Abstract</em>: <em>This article analyzes the urgency of reconstructing the recruitment mechanism for members of the General Elections Commission (KPU) and the Election Supervisory Body (Bawaslu) in Indonesia to ensure the independence and professionalism of election organizers. Following the Constitutional Court Decision No. 135/PUU-XXII/2024, which decoupled the schedules of National and Local Elections, the workload and integrity standards of organizers require fundamental adjustments. Utilizing a normative-juridical method and an analytical approach to secondary data from the Election Organizer Ethics Council (DKPP) and election monitoring organizations, this study finds that the current recruitment process remains entangled in politicization during the final stage in Parliament (DPR) and suffers from suboptimal gender affirmation policies. The research findings recommend strengthening the role of the Selection Team as a gatekeeper and redesigning the role of the DPR into a confirmatory body (rather than an elective one) to minimize political intervention.</em></p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> SDM, HRM, Rekrutmen, KPU, Bawaslu, Independensi, Pemilu Serentak, Pilkada.</p> Sitti Rakhman Copyright (c) 2026 Sitti Rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/44 Wed, 31 Dec 2025 00:00:00 +0000