Jurnal Deliberatif https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif <p><strong>Jurnal Deliberatif</strong> adalah jurnal yang terbit dua kali dalam setahun: Juni dan Desember di bawah Jaringan Pemberdayaan Politik Lingkungan Hidup (Gardapoli), Indonesia. Jurnal ini bertujuan memperluas dan memperdalam wawasan mengenai isu hukum, politik, sumber daya manusia, dan lingkungan hidup.<br />Keberadaan Jurnal Deliberatif diharapkan menjadi opsi bacaan bagi masyarakat umum, terutama yang menaruh minat dengan hukum, politik, sumber daya manusia dan lingkugan hidup dan menjadi kebaruan atau temuan dari penelitian terutama yang berfokus kepada hukum, politik, sumber daya manusia, dan lingkungan hidup. Setiap artikel akan direview oleh reviewer yang ahli dalam bidangnya. Proses review bersifat double-blind dimana setiap reviewer tidak mengetahui identitas penulis dan sebaliknya penulis juga tidak mengetahui identitas reviewer.<br />Sebelum mengirimkan, harap pastikan bahwa naskah sesuai dengan fokus dan ruang lingkup Jurnal Deliberatif, ditulis dalam bahasa Indonesia dan abstrak ditulis dalam bahasa Inggris serta bahasa Indonesia, dan mengikuti pedoman penulis &amp; template naskah kami. Jika naskah yang dikirimkan tidak sesuai dengan pedoman atau menggunakan format yang berbeda, maka akan ditolak oleh tim redaksi sebelum ditinjau. Tim Redaksi hanya akan menerima naskah yang memenuhi persyaratan format yang ditentukan.</p> en-US adminojs@gardapoli.or.id (Administrator) journalmanager@gardapoli.or.id (Editor Deliberatif) Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 OJS 3.3.0.13 http://blogs.law.harvard.edu/tech/rss 60 Melek Industri Belum Tentu Melek Finansial : Analisis Kualitatif Literasi Keuangan Dan Perilaku Pengambilan Keputusan Ekonomi Karyawan Pada Sebuah Perusahaan Asuransi Dalam Group Ekosistem Keuangan Terintegrasi https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/58 <p style="font-weight: 400;"><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p style="font-weight: 400;"><em>Financial literacy is a key determinant of individuals' economic behavior and decision-making quality. The 2024 National Survey on Financial Literacy and Inclusion (SNLIK) reports a national financial literacy index of only 65.43%, lower than the 75.02% financial inclusion index</em><em>, </em><em>indicating that access to financial products has outpaced understanding of them. This warrants investigation among financial industry employees, typically assumed to be financially literate.</em></p> <p style="font-weight: 400;"><em>This paper examines the financial literacy of employees at an insurance company within an integrated financial ecosystem group, and its correlation with economic behavior and decision-making. Using a qualitative descriptive case study approach, data were gathered through in-depth interviews with seven informants across different positions, observation, and document analysis, then analyzed thematically (Miles &amp; Huberman), with validity assessed via source and technique triangulation.</em></p> <p style="font-weight: 400;"><em>Findings show generally good financial literacy, particularly regarding risk concepts, but weaknesses in investment diversification. All informants agreed that working in finance does not equate to being financially literate; knowledge does not always translate into disciplined behavior. The group's integrated financial ecosystem proved a double-edged sword, improving financial behavior overall while fostering consumptive tendencies among junior employees. The study proposes a sustainable, practical internal financial education program incorporating planning simulations as an HR development strategy.</em></p> <p style="font-weight: 400;"><strong>Keywords:</strong> <em>financial literacy, financial behavior, economic decision-making, human resource management, insurance</em></p> Indri Anggraeni Wulansari, Sitti Rakhman Copyright (c) 2026 Indri Anggraeni Wulansari, Sitti Rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/58 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Pengaruh Knowledge Sharing dan Program Mentoring terhadap Peningkatan Kompetensi Teknis Underwriter Muda di PT X https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/54 <p><strong>Abstract</strong></p> <p>This research aims to analyze the impact of knowledge sharing activities and mentoring programs on enhancing the technical competence of young underwriters at PT X, while mitigating the risk of knowledge loss. The study employed a qualitative approach with a descriptive single case study design. Data collection was conducted through triangulation techniques, including in-depth interviews with 8 informants (4 young underwriters, 3 senior underwriters, and 1 division manager), participant observation, and documentation studies. Interactive qualitative data analysis followed the Miles and Huberman model, comprising data reduction, data display, and conclusion drawing. The results indicate that organic-horizontal knowledge sharing activities effectively accelerate the acquisition of explicit knowledge, particularly regarding premium tariff interpretations and policy clauses. Meanwhile, the formal mentoring program via a 12-month shadowing scheme serves as the most reliable instrument for transferring tacit knowledge, such as underwriting intuition in grey areas. The interactive synergy between both programs establishes institutional memory as an internal defense mechanism, significantly reducing document revision error rates and improving turnaround time efficiency, which ultimately contributes positively to controlling the company's loss ratio.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Keywords:</strong> <em>knowledge sharing; mentoring program; technical competence; young underwriter; general insurance</em></p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh aktivitas <em>knowledge sharing</em> dan program mentoring terhadap peningkatan kompetensi teknis <em>underwriter</em> muda di PT X, sekaligus memitigasi risiko kebocoran pengetahuan (<em>knowledge loss</em>). Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kualitatif dengan rancangan studi kasus tunggal deskriptif analisis. Pengumpulan data dilakukan melalui teknik triangulasi sumber yang meliputi wawancara mendalam terhadap 8 informan (4 <em>underwriter</em> muda, 3 <em>underwriter</em> senior, dan 1 manajer divisi), observasi partisipatif, serta studi dokumentasi. Analisis data kualitatif menggunakan model interaktif Miles dan Huberman yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas <em>knowledge sharing</em> organik-horizontal efektif mempercepat penguasaan pengetahuan eksplisit (<em>explicit knowledge</em>), khususnya terkait interpretasi tarif premi dan klausul polis. Sementara itu, program mentoring formal melalui metode <em>shadowing</em> selama 12 bulan menjadi instrumen paling andal untuk mentransfer pengetahuan implisit (<em>tacit knowledge</em>) berupa intuisi akseptasi risiko pada area abu-abu (<em>grey area</em>). Sinergi interaktif dari kedua program ini berhasil membentuk mekanisme <em>institutional memory</em> yang secara nyata menurunkan tingkat kesalahan (<em>error rate</em>) revisi berkas akseptasi dan meningkatkan efisiensi waktu pelayanan (<em>turnaround time</em>), yang pada akhirnya berkontribusi positif dalam mengendalikan rasio klaim (<em>loss ratio</em>) perusahaan.</p> <p>&nbsp;</p> <p><strong>Kata Kunci:</strong> <em>knowledge sharing; program mentoring; kompetensi teknis; underwriter muda; asuransi umum</em></p> Emylia Eka Kusumaningrum, Sitti Rakhman Copyright (c) 2026 Emylia Eka Kusumaningrum, Sitti Rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/54 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Analisis Dampak Penerapan PJOK Nomor 23 Tahun 2023 Terhadap Sumber Daya Manusia Dalam Skenario Ketidakmampuan Perusahaan Asuransi Memenuhi Ketentuan Ekuitas Minimm https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/56 <p><strong><em>Abstract</em></strong></p> <p><em>This study examines the human resources (HR) implications of the Financial Services Authority Regulation (POJK) Number 23 of 2023 on insurance business licensing and institutional arrangements, particularly within the scenario where insurance companies fail to meet the staged minimum equity requirements. The regulation requires conventional and sharia insurance and reinsurance companies to gradually increase their minimum equity by the end of 2026 and 2028, with escalating supervisory sanctions from written warnings to business activity restriction and license revocation imposed on non-compliant companies. While prior studies have extensively discussed the regulation from financial, managerial, and legal perspectives, its consequences for employees remain underexplored. Using a qualitative descriptive method combined with normative-juridical legal analysis based on secondary data statutory regulations, peer-reviewed journal articles, and documented industry cases this study finds that corporate failure to satisfy the equity threshold triggers a chain of organizational responses, including downsizing, restructuring, and in extreme cases, business dissolution, each of which generates job insecurity, diminished organizational commitment, and reduced statutory protection for affected workers, particularly the lowered severance entitlement applicable in bankruptcy-related termination. The study also identifies HR competency gaps emerging from consolidation (KUPA) and sharia unit spin-off requirements. These findings suggest that capital-strengthening policy in the insurance sector carries significant indirect social costs that warrant complementary HR-protective measures from both regulators and industry management.</em></p> Dwi Eloran, Sitti Rakhman Copyright (c) 2026 Dwi Eloran, Sitti Rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/56 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Mekanisme Penerapan Insurance Asset I-ready Dalam Asset Management di Industri Perkebunan Kelapa Sawit Sebagai Solusi Pelaporan Aset Untuk Proses Cover Asuransi https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/60 <p>Penelitian ini membahas cara bagaiman mengelola aset di industri perkebunan kelapa sawit untuk mendukung proses asuransi yang lebih akurat dan tepat waktu. Permasalahan utama yang di hadapi pada industry tersebut adalah data aset yang tidak diperbarui, aset yang sudah tidak digunakan lagi tetapi masih tercatat, dan lambatnya respon dalam meminta data aset. Hal ini dapat menyebabkan penginputan data asuransi yang tidak akurat, risiko underinsurance atau overinsurance, dan proses renewal yang tidak tepat waktu. Penelitian ini mengusulkan kerangka konseptual yang disebut Insurance Asset I-ready (IAR), sebagai konsep kerangka untuk mengatasi permasalahan ini. Kerangka ini memastikan pengelolaan data aset yang baik, verifikasi siklus hidup asset yang sesuai, penyesuaian nilai asuransi yang wajar, integrasi digital asset yang efektif, dan pengendalian risiko yang maksimal. Dengan demikian, perusahaan perkebunan sawit dapat memiliki dasar yang lebih kuat dalam menentukan objek asuransi, nilai pertanggungan asuransi, dan jenis perlindungan asuransi yang dibutuhkan sesuai dengan deskripsi maupun terhadap kategori aset.</p> Muhammad Harun Alrasyid, Sitti Rakhman Copyright (c) 2026 Muhammad Harun Alrasyid, Sitti Rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/60 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Peran Strategis Industri Asuransi terhadap Pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs): Peluang, Tantangan, dan Implikasi Kebijakan Publik https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/61 <p><em>The achievement of the Sustainable Development Goals (SDGs) requires the active participation of various stakeholders, including the financial services sector. As one of the key institutions in risk management, the insurance industry plays a strategic role in supporting sustainable development through financial protection, risk mitigation, and long-term investment mobilization. This study aims to analyze the strategic role of the insurance industry in achieving the SDGs, identify the opportunities and challenges faced by the industry, and examine the public policy implications necessary to strengthen its contribution to sustainable development. This research employs a qualitative approach using a literature review method by analyzing academic publications, policy documents, regulations, and relevant reports related to insurance, sustainable development, and public policy. The findings indicate that the insurance industry contributes significantly to several SDGs, particularly those related to poverty reduction, health, economic growth, sustainable infrastructure, and climate action. However, the industry faces various challenges, including low insurance penetration, limited sustainable insurance products, regulatory constraints, human resource capacity gaps, and increasing environmental risks due to climate change. Therefore, strengthening regulatory frameworks, enhancing insurance literacy, developing sustainable insurance products, and integrating environmental, social, and governance (ESG) principles into insurance business practices are essential to optimize the industry's contribution to sustainable development. The study concludes that the insurance industry has substantial potential to become a strategic partner in achieving the SDGs, provided that comprehensive public policy support and stakeholder collaboration are effectively implemented.</em></p> Haposan Bakara Copyright (c) 2026 Haposan Bakara https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/61 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Peranan Kompetensi Sumber Daya Manusia Dalam Pengambilan Keputusan Ekonomi Berbasis Risiko Pada Perusahaan Pialang Asuransi Di Indonesia: Studi Literatur Kualitatif https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/62 <p><em>Insurance brokers play a crucial role in helping companies manage and transfer their risks through informed decision-making regarding insurance programs. The increasing complexity of the business environment and rising economic uncertainty force companies to rely on the skills of their Human Resources (HR) to make informed and effective decisions, while considering the various risks they face. This study analyzes the role of HR skills in this context, identifies the skills that have the greatest impact on decision-making quality, and formulates strategies for developing these skills among insurance brokers in Indonesia. The study employed qualitative methods and included a literature review of ten relevant journals published over the past ten years. Data analysis was conducted through data reduction and presentation, and conclusions were drawn based on a synthesis of previous research. The findings indicate that HR management skills, including knowledge, skills, experience, analytical thinking, and risk management insights, contribute significantly to improving the quality of risk-based business decisions. Furthermore, a risk-oriented corporate culture, the use of information technology, and ongoing HR training will foster effective decision-making. This study recommends that insurance brokers strengthen their personnel development programs through training, professional certification, fostering a risk-oriented culture, and leveraging technology and data analytics to improve business decision quality and enhance competitiveness.</em></p> Muhammad Sahwir Pasah, Sitti Rakhman Copyright (c) 2026 Muhammad Sahwir Pasah, Sitti Rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/62 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Kolaborasi Global dalam Penguatan Kualitas Keputusan Underwriting pada Perusahaan Asuransi Umum Joint Venture di Indonesia https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/63 <p>Keputusan underwriting pada industri asuransi umum semakin kompleks akibat persaingan harga, kenaikan biaya klaim, tuntutan permodalan, dan PSAK 117. Penelitian ini menganalisis peran kolaborasi global dalam memperkuat kualitas keputusan underwriting dan membentuk perilaku ekonomi sumber daya manusia pada perusahaan asuransi umum joint venture di Indonesia. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan desain studi kasus reflektif. Data bersumber dari observasi profesional, telaah kebijakan dan alur referral yang dianonimkan, serta analisis regulasi, informasi industri, dan literatur. Triangulasi sumber membandingkan pengalaman operasional, ketentuan kebijakan, dan bukti eksternal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pedoman global, risk grading, disiplin harga, mekanisme referral, audit teknis, dan pembelajaran lintas negara meningkatkan konsistensi serta akuntabilitas keputusan, terutama ketika perusahaan menghadapi tekanan pertumbuhan premi dan ketidakpastian klaim. Efektivitasnya ditentukan oleh kemampuan SDM menerjemahkan standar global ke dalam karakteristik risiko lokal, praktik pasar, ketentuan OJK, dan implikasi PSAK 117. Penelitian mengusulkan adaptive underwriting governance yang memadukan risk appetite, kewenangan lokal terukur, referral edukatif, dokumentasi alasan keputusan, pengembangan kompetensi, dan umpan balik portofolio.</p> Kabul Eka Priana, Sitti Rakhman Copyright (c) 2026 Kabul Eka Priana, Sitti Rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/63 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Analisis Praktik Double Job sebagai Bentuk Efisiensi Sumber Daya Manusia (SDM) dan Dampaknya terhadap Pengambilan Keputusan Karyawan https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/57 <p style="font-weight: 400;">Pertumbuhan bisnis yang semakin meningkat sering kali diikuti oleh peningkatan volume dan kompleksitas pekerjaan yang membutuhkan dukungan sumber daya manusia (SDM) yang lebih besar. Namun, di tengah tuntutan efisiensi biaya operasional, banyak perusahaan memilih menerapkan praktik rangkap fungsi jabatan (double job) dibandingkan melakukan penambahan tenaga kerja baru. Praktik ini dipandang sebagai salah satu bentuk implementasi functional flexibility yang memungkinkan perusahaan mengoptimalkan pemanfaatan SDM yang tersedia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis praktik rangkap fungsi jabatan sebagai strategi efisiensi SDM, mengkaji dampaknya terhadap beban kerja dan beban kognitif karyawan, serta menganalisis keterkaitan kedua faktor tersebut terhadap kualitas pengambilan keputusan.</p> <p style="font-weight: 400;">Penelitian menggunakan metode studi literatur dengan pendekatan kualitatif deskriptif. Sumber data diperoleh dari berbagai artikel jurnal ilmiah terindeks yang dipublikasikan dalam lima tahun terakhir dan memiliki relevansi dengan konsep functional flexibility, workload, cognitive load, dan kualitas pengambilan keputusan.</p> <p style="font-weight: 400;">Hasil penelitian menunjukkan bahwa rangkap fungsi jabatan dapat meningkatkan efisiensi penggunaan SDM dan fleksibilitas organisasi dalam menghadapi perubahan kebutuhan operasional. Namun, praktik tersebut juga berpotensi meningkatkan beban kerja (work overload) dan beban kognitif (cognitive load) karyawan. Peningkatan kedua beban tersebut dapat menyebabkan kelelahan kerja, keterbatasan kapasitas pemrosesan informasi, serta penurunan kemampuan individu dalam mengevaluasi alternatif keputusan secara optimal. Temuan ini menunjukkan adanya trade-off antara efisiensi biaya tenaga kerja dan kualitas pengambilan keputusan. Oleh karena itu, perusahaan perlu menerapkan rangkap fungsi jabatan secara proporsional agar manfaat efisiensi yang diperoleh tidak mengorbankan kualitas keputusan dan kinerja organisasi dalam jangka panjang.</p> Nathania Shayna Zaviera Setiawan, Sitti Rakhman Copyright (c) 2026 Nathania Shayna Zaviera Setiawan, Sitti Rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/57 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Transformasi SDM Surveyor Marine Independen: Kajian Kritis Terhadap Kompetensi, Profesionalisme, dan Tuntutan Layanan https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/59 <h2>Abstrak</h2> <p>Perkembangan digitalisasi dan regulasi di sektor maritim menuntut peningkatan kompetensi Independent Marine Surveyor (IMS). Penelitian ini menganalisis perubahan sumber daya manusia (SDM) IMS di Perusahaan X, khususnya pada aspek kompetensi, profesionalisme, dan kebutuhan layanan. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif melalui wawancara semi-terstruktur dengan tiga informan, yaitu seorang IMS senior, broker asuransi marine joint venture, dan marine underwriter asuransi. Hasil penelitian menunjukkan adanya kesenjangan kemampuan digital antara surveyor senior dan junior. Selain itu, standar STCW 2010 Amandemen Manila belum sepenuhnya menjawab kebutuhan kompetensi IMS, sementara tuntutan pemangku kepentingan terhadap isi laporan menjadi tantangan yang umum dihadapi. Penelitian ini juga menemukan strategi 3D (Data, Diplomasi, dan Dokumen) yang digunakan surveyor untuk menjaga objektivitas dan independensi laporan. Kesimpulannya, transformasi SDM IMS perlu mengintegrasikan kompetensi teknis dan digital dengan profesionalisme etis. Oleh karena itu, Perusahaan X disarankan mengembangkan pelatihan terpadu, program mentoring dua arah, serta pelatihan diplomasi profesional guna menjaga kualitas laporan survei yang cepat, akurat, dan dapat dipercaya.</p> <p>&nbsp;</p> <p>Kata kunci: SDM maritim, Independent Marine Surveyor, kompetensi digital, profesionalisme, fairness</p> Samekto Siswantoro Siswantoro, Sitti Rakhman Copyright (c) 2026 Samekto Siswantoro Siswantoro https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/59 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 a ANALISIS KEGAGALAN PEMBANGUNAN CORE SYSTEM DIGITALISASI PROSES YANG MENJADI PENGHAMBAT OPERASIONAL STUDI KUALITATIF SDM PT ASURANSI ABC https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/55 <p>Abstrak<br />Kegagalan implementasi core system baru dalam proyek digitalisasi korporasi sering kali berakar dari kegagalan faktor Sumber Daya Manusia (SDM) sebagai aktor ekonomi yang memiliki keterbatasan kognitif (bounded rationality), bukan sekadar kendala teknis perangkat lunak. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara mendalam faktor psikologi ekonomi dan bias perilaku SDM yang melandasi kegagalan pembangunan core system digitalisasi proses operasional di PT Asuransi ABC, serta bagaimana kegagalan tersebut berbalik menjadi penghambat utama efisiensi operasional perusahaan. Pendekatan penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif analitis dengan penentuan sampel menggunakan metode purposive sampling. Sumber data primer diperoleh melalui wawancara mendalam terhadap 12 informan yang terdiri atas 2 orang Direksi Eksekutif, 4 Manajer Proyek IT &amp; Pengadaan, serta 6 Staf Operasional dari divisi Underwriting dan Klaim. Data primer diperkuat dengan studi dokumentasi laporan deviasi anggaran, catatan log kegagalan sistem, grafik keterlambatan pemrosesan, dan data pengunduran diri karyawan. Triangulasi dilakukan dengan membandingkan data wawancara, observasi langsung atas kelambatan sistem, serta validasi konsensus teori ekonomi perilaku terkini dari literatur global periode 2016–2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proyek digitalisasi yang awalnya dianggarkan sebesar Rp10 miliar ini mengalami kegagalan struktural akibat tiga bias perilaku utama dari aktor SDM di dalam organisasi. Pertama, overconfidence bias pada fase perencanaan membuat manajemen puncak mengabaikan masukan staf senior dan membeli paket perangkat lunak siap pakai dari vendor asing senilai Rp8 miliar tanpa studi kelayakan mendalam. Kedua, status quo bias di tingkat staf operasional memicu penolakan terselubung dan duplikasi kerja manual menggunakan Excel secara mandiri karena merasa kenyamanan kerja terganggu oleh ketatnya sistem baru. Ketiga, sunk cost fallacy mendistorsi rasionalitas manajerial untuk terus mengalirkan dana tambahan sebesar Rp3 miliar demi memodifikasi modul yang cacat desain karena takut kehilangan reputasi profesional. Rantai bias ini berimplikasi fatal pada operasional lapangan, di mana waktu pemrosesan klaim membengkak dari 3 hari menjadi 14 hari kerja akibat data membeku (system freeze), memicu stres kerja masif, hingga melonjaknya angka turnover staf operasional kunci mencapai 24% dalam setahun terakhir .Guna mengurai disfungsi tersebut, dirancang tiga strategi intervensi perilaku (behavioral interventions) untuk merestrukturisasi arsitektur keputusan SDM. Intervensi tersebut meliputi penerapan kebijakan cut-loss objektif melalui pembentukan Independent IT Governance Committee, pembentukan skema penilaian kinerja baru berbasis Digital Adoption Reward Framework untuk memutus bias status quo, serta pelaksanaan protokol de-biasing anggaran lewat simulasi Premortem Analysis. Setelah diimplementasikan secara konsisten selama dua kuartal, strategi ini berhasil memulihkan efisiensi finansial dan operasional perusahaan secara masif. Dampak pasca-implementasi mencakup pemulihan kecepatan pemrosesan klaim menjadi hanya 2 hari kerja, penyusutan angka kesalahan perhitungan premi hingga tingkat nol persen, serta stabilisasi angka turnover staf yang menurun tajam dari 24% menjadi hanya 3,5% per tahun.<br />Kata Kunci: Core System; Ekonomi Perilaku; Overconfidence Bias; Status Quo Bias; Sunk Cost Fallacy; Intervensi Perilaku;</p> herdian herdian, Sitti Rakhman Copyright (c) 2026 herdian herdian, Sitti Rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/55 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Strategi Human Resource Management dalam Menghadapi Hiring Freeze pada Perusahaan Pialang Asuransi: Suatu Systematic Literature Review https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/64 <p><strong>Abstract</strong></p> <p>This study examines Human Resource Management (HRM) strategies for responding to hiring freeze policies in insurance brokerage companies through a Systematic Literature Review (SLR). The review analyzes national and international scholarly publications issued between 2021 and 2026 using a structured process of literature identification, screening, quality assessment, and synthesis guided by the perspectives of Strategic Human Resource Management, the Resource-Based View, Human Capital Theory, and Dynamic Capabilities. The findings indicate that hiring freezes are commonly adopted to address economic uncertainty, accelerate organizational efficiency, and support digital transformation. Although this policy can reduce labor costs, it may also increase employee workload, weaken engagement, and limit organizational performance when not supported by effective HR practices. The literature consistently highlights strategic workforce planning, employee upskilling and reskilling, internal talent development, employee engagement initiatives, digital HR transformation, adaptive performance management, and succession planning as key strategies for sustaining organizational capability during recruitment restrictions. The review concludes that the effectiveness of a hiring freeze depends primarily on an organization's ability to maximize existing human capital rather than merely suspending external recruitment. Accordingly, HRM should function as a strategic business partner that strengthens organizational resilience, service quality, and long-term competitiveness within the insurance brokerage industry.</p> <p>&nbsp;</p> Savitri Sri Lestari, Sitti Rakhman Copyright (c) 2026 Savitri Sri Lestari, Sitti Rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/64 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Pengaruh Gejolak Geopolitik di Timur Tengah terhadap Supply Kapasitas Reasuransi Global dan Dampaknya terhadap Pendapatan Brokerage Perusahaan Broker Reasuransi https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/66 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Penelitian ini menganalisis bagaimana gejolak geopolitik di Timur Tengah—khususnya rangkaian konflik Israel–Hamas, serangan Houthi di Laut Merah, serta eskalasi ketegangan yang melibatkan Iran di sekitar Selat Hormuz—memengaruhi penawaran (supply) kapasitas reasuransi global dan, pada gilirannya, pendapatan brokerage perusahaan broker reasuransi. Menggunakan metode kualitatif deskriptif-analitis dengan basis studi kepustakaan dan data sekunder dari laporan broker global (Aon, Guy Carpenter, Gallagher Re, Howden Re), lembaga pemeringkat (S&amp;P, Moody’s, Morningstar DBRS), serta data pasar marine war risk, penelitian menemukan adanya paradoks penawaran kapasitas. Pada tingkat agregat, kapital reasuransi global mencapai rekor tertinggi sekitar USD 785 miliar pada akhir 2025 sehingga memicu pasar lunak (soft market) dengan penurunan tarif yang tajam pada lini katastrofa properti. Namun pada lini spesialis yang sensitif terhadap konflik (marine war, aviation war, terrorism, political violence, dan cyber), kapasitas justru mengetat, dengan repricing premi yang ekstrem, klausul pembatalan tujuh hari, kenaikan attachment point, dan perluasan pengecualian. Dampak terhadap pendapatan brokerage bersifat dua arah: pelunakan tarif lini inti menekan brokerage per unit, sementara repricing dan lonjakan permintaan pada lini spesialis, peningkatan penempatan fakultatif, serta jasa advisory dan structuring justru menopang pendapatan. Secara empiris, pertumbuhan organik divisi reasuransi broker besar tetap tangguh pada kisaran 6–8% sepanjang 2025–2026. Penelitian menyimpulkan bahwa gejolak Timur Tengah berperan sebagai penyangga (cushion) dan sumber margin tinggi yang spesifik, bukan sebagai pendorong utama pendapatan brokerage, karena lini terdampak hanya merupakan irisan kecil dari kolam premi reasuransi global.</p> <p><strong>Kata kunci: </strong><em>risiko geopolitik; kapasitas reasuransi; soft market; marine war risk; pendapatan brokerage; broker reasuransi.</em></p> <p><strong>ABSTRACT</strong></p> <p><em>This study analyses how geopolitical turmoil in the Middle East—particularly the Israel–Hamas conflict, Houthi attacks in the Red Sea, and the escalation of tensions involving Iran around the Strait of Hormuz—affects the supply of global reinsurance capacity and, in turn, the brokerage income of reinsurance broking firms. Using a qualitative descriptive-analytical method based on a literature review and secondary data from global broker reports (Aon, Guy Carpenter, Gallagher Re, Howden Re), rating agencies (S&amp;P, Moody’s, Morningstar DBRS), and marine war-risk pricing data, the study identifies a capacity-supply paradox. At the aggregate level, global reinsurance capital reached a record high of around USD 785 billion at year-end 2025, driving a soft market with sharp rate reductions in property catastrophe lines. Yet in conflict-sensitive specialty lines (marine war, aviation war, terrorism, political violence, and cyber), capacity tightened, with extreme premium repricing, seven-day cancellation clauses, higher attachment points, and broadened exclusions. The effect on brokerage income is two-directional: softening core-line rates compress per-unit brokerage, while repricing and surging demand in specialty lines, increased facultative placements, and advisory and structuring services support income. Empirically, the organic growth of major brokers’ reinsurance divisions remained resilient at 6–8% throughout 2025–2026. The study concludes that Middle East turmoil acts as a cushion and a high-margin niche rather than the principal driver of brokerage income, because the affected lines represent only a small slice of the global reinsurance premium pool.</em></p> <p><strong><em>Keywords: </em></strong><em>geopolitical risk; reinsurance capacity; soft market; marine war risk; brokerage income; reinsurance broker.</em></p> Bayu Kristianto, sitti rakhman Copyright (c) 2026 Bayu Kristianto, sitti rakhman https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/66 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 PENGARUH PENERAPAN M-BIZ DALAM KEGIATAN MARKETING DAN PENINGKATAN MARKET SHARE PADA PT. ASURANSI KREDIT INDONESIA https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/67 <p><strong>ABSTRAK</strong></p> <p>Perkembangan teknologi digital menuntut perusahaan asuransi untuk bertransformasi dalam strategi marketing. PT Askrindo sebagai BUMN penjaminan dan asuransi menghadapi persaingan ketat dalam merebut market share. Salah satu inisiatif transformasi digital yang diterapkan adalah M-Biz, sebuah platform mobile business untuk mempermudah proses pemasaran, akuisisi nasabah, dan layanan. </p> <p>Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh penerapan M-Biz terhadap efektivitas kegiatan marketing dan peningkatan market share PT Askrindo periode 2024-2025. Metode yang digunakan adalah kuantitatif deskriptif dengan pendekatan survey dan analisis data sekunder. Data diperoleh dari laporan penjualan, data penggunaan M-Biz, dan kuesioner kepada 120 agen dan marketing officer PT Askrindo. </p> <p>Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa penerapan M-Biz berpengaruh positif dan signifikan terhadap efisiensi waktu marketing sebesar 42%, peningkatan produktivitas agen sebesar 35%, dan peningkatan market share sebesar 8,7% dalam 1 tahun. Faktor utama yang memengaruhi adalah kemudahan akses, kecepatan proses underwriting, dan integrasi data real-time, serta efesiensi dalam kunjungan marketing ke mitra dan nasabah.</p> ZEPRI MANALU Copyright (c) 2026 ZEPRI MANALU https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/67 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 PENGARUH BUDAYA PERUSAHAAN AKHLAK TERHADAP KINERJA DAN PERILAKU KERJA PEGAWAI PT. ASURANSI KREDIT INDONESIA https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/68 <p><strong>Abstrak</strong></p> <p>Budaya organisasi merupakan faktor fundamental yang memengaruhi perilaku, etos kerja, dan kinerja pegawai. Dalam konteks Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Kementerian BUMN telah menetapkan nilai-nilai dasar <strong>AKHLAK</strong>—Amanah, Kompeten, Harmonis, Loyal, Adaptif, dan Kolaboratif—sebagai pedoman perilaku seluruh insan BUMN. Penelitian ini bertujuan untuk memahami secara mendalam bagaimana budaya AKHLAK diinternalisasi dan diimplementasikan oleh pegawai <strong>PT. Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo)</strong> serta bagaimana nilai-nilai tersebut memengaruhi kinerja mereka.</p> <p>Penelitian ini menggunakan <strong>pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif</strong>, yang berfokus pada pemahaman makna dan pengalaman subjektif pegawai dalam konteks penerapan budaya organisasi. Data dikumpulkan melalui <strong>wawancara mendalam</strong> dengan 15 informan yang terdiri atas pegawai dari berbagai divisi dan level jabatan, <strong>observasi partisipatif</strong> terhadap aktivitas kerja dan interaksi antarpegawai, serta <strong>analisis dokumen</strong> berupa pedoman budaya AKHLAK, laporan kinerja, dan kebijakan internal perusahaan. Analisis data dilakukan secara <strong>tematik</strong> dengan tahapan reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan menggunakan model interaktif Miles dan Huberman.</p> <p>Hasil penelitian menunjukkan bahwa budaya AKHLAK telah terinternalisasi secara cukup kuat di lingkungan Askrindo dan berpengaruh positif terhadap peningkatan kinerja pegawai. Nilai <strong>Amanah</strong> membentuk integritas dan tanggung jawab kerja; <strong>Kompeten</strong> mendorong profesionalisme dan pembelajaran berkelanjutan; <strong>Harmonis</strong> menciptakan hubungan kerja yang inklusif dan saling menghargai; <strong>Loyal</strong> memperkuat komitmen dan rasa memiliki terhadap organisasi; <strong>Adaptif</strong> menumbuhkan kesadaran akan pentingnya inovasi meskipun masih menghadapi tantangan dalam penerapan transformasi digital; dan <strong>Kolaboratif</strong> menjadi kekuatan utama dalam membangun sinergi lintas divisi. Secara keseluruhan, budaya AKHLAK berfungsi sebagai sistem nilai yang membentuk perilaku kerja positif, memperkuat kohesi sosial, dan meningkatkan efektivitas organisasi.</p> <p>Kesimpulan penelitian ini menegaskan bahwa penerapan budaya AKHLAK tidak hanya berperan sebagai pedoman perilaku, tetapi juga sebagai <strong>roh organisasi</strong> yang menuntun pegawai untuk bekerja dengan integritas, profesionalisme, dan semangat kolaboratif. Budaya ini menjadi fondasi penting dalam membangun kinerja unggul dan memperkuat daya saing Askrindo sebagai BUMN yang berintegritas dan adaptif terhadap perubahan.</p> <p> </p> <p><strong>Abstrac</strong></p> <p>Organizational culture is a fundamental factor influencing employee behavior, work ethics, and performance. In the context of Indonesian State-Owned Enterprises (SOEs), the Ministry of SOEs has established the core values of <strong>AKHLAK</strong>—Amanah (Trustworthy), Kompeten (Competent), Harmonis (Harmonious), Loyal (Loyal), Adaptif (Adaptive), and Kolaboratif (Collaborative)—as behavioral guidelines for all employees. This study aims to explore in depth how the AKHLAK culture is internalized and implemented by employees of <strong>PT. Asuransi Kredit Indonesia (Askrindo)</strong> and how these values affect their performance.</p> <p>This research employs a <strong>qualitative descriptive approach</strong>, focusing on understanding the meaning and subjective experiences of employees in applying organizational culture. Data were collected through <strong>in-depth interviews</strong> with 15 informants from various divisions and job levels, <strong>participant observation</strong> of daily work activities and interpersonal interactions, and <strong>document analysis</strong> of AKHLAK guidelines, performance reports, and internal policies. Data were analyzed thematically using the <strong>Miles and Huberman interactive model</strong>, which includes data reduction, data display, and conclusion drawing.</p> <p>The findings reveal that the AKHLAK culture has been well internalized within Askrindo and positively influences employee performance. The value of <strong>Amanah</strong> fosters integrity and accountability; <strong>Kompeten</strong> promotes professionalism and continuous learning; <strong>Harmonis</strong> builds inclusive and respectful relationships; <strong>Loyal</strong> strengthens commitment and organizational belonging; <strong>Adaptif</strong> encourages innovation despite challenges in digital transformation; and <strong>Kolaboratif</strong> enhances teamwork and cross-divisional synergy. Overall, the AKHLAK culture functions as a value system that shapes positive work behavior, strengthens social cohesion, and improves organizational effectiveness.</p> <p>The study concludes that the implementation of the AKHLAK culture serves not only as a behavioral guideline but also as the <strong>soul of the organization</strong>, guiding employees to work with integrity, professionalism, and collaboration. This culture forms a strong foundation for achieving superior performance and enhancing Askrindo’s competitiveness as an ethical and adaptive state-owned enterprise.</p> <p> </p> Fachrul Septianto Copyright (c) 2026 Fachrul Septianto https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/68 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 Analisis dampak layanan nasabah terintegrasi untuk hubungan bisnis jangka panjang : Penerapan Integrated Partnership Model di PT. Asuransi LMN https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/69 <h2><u>ABSTRAK</u></h2> <p>Industri asuransi memiliki karakteristik hubungan layanan yang kompleks dan berjangka panjang karena melibatkan berbagai aktor, sumber daya, proses, dan kanal interaksi sepanjang perjalanan nasabah. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran layanan nasabah terintegrasi dalam membangun hubungan bisnis jangka panjang melalui perspektif <em>service ecosystem</em>. Penelitian menggunakan pendekatan konseptual-deskriptif pada contoh kasus di PT. Asuransi LMN dengan mengembangkan kerangka yang menghubungkan <em>service ecosystem integration</em>, <em>customer value creation</em>, <em>customer experience, trust, relationship commitment</em>, dan <em>long-term business relationship</em>. Hasil kajian menunjukkan bahwa PT. Asuransi LMN telah menjalankan beberapa aksi korporasi melalui implementasi programnya yakni <em>Integrated Partnership Model</em> (IPM) dengan mengintegrasikan aktor, informasi, pengetahuan, proses, teknologi, dan kanal pelayanan menjadi fondasi penciptaan nilai fungsional, relasional, dan strategis bagi nasabah. Nilai tersebut diwujudkan melalui pengalaman nasabah yang konsisten, mudah, transparan, dan responsif, yang selanjutnya memperkuat kepercayaan terhadap kompetensi, integritas, dan reliabilitas perusahaan. Kepercayaan yang terbentuk secara berkelanjutan mendorong <em>relationship commitment</em> dan meningkatkan kecenderungan nasabah untuk mempertahankan, memperluas, serta mengembangkan hubungan bisnis. Penelitian menyimpulkan bahwa hubungan bisnis jangka panjang merupakan hasil dari proses sistemik yang dimulai dari integrasi ekosistem layanan hingga pembentukan kepercayaan dan komitmen hubungan. Perusahaan asuransi direkomendasikan untuk memperkuat tata kelola lintas fungsi, integrasi data dan proses, kesinambungan kanal, pengelolaan <em>customer journey</em>, serta menghubungkan indikator pengalaman nasabah dengan retensi dan pengembangan hubungan bisnis.</p> <p><strong><u>ABSTRACT</u></strong></p> <p><strong> </strong></p> <p><em>The insurance industry is characterized by complex and long-term service relationships involving multiple actors, resources, processes, and interaction channels throughout the customer journey. This study aims to analyze the role of integrated customer service in building long-term business relationships from a service ecosystem perspective. Using a conceptual-descriptive approach and a case study of PT Asuransi LMN, this study develops a framework linking service ecosystem integration, customer value creation, customer experience, trust, relationship commitment, and long-term business relationships. The findings indicate that PT Asuransi LMN has undertaken several corporate initiatives through the implementation of its Integrated Partnership Model (IPM), which integrates actors, information, knowledge, processes, technology, and service channels as a foundation for creating functional, relational, and strategic value for customers. This value is manifested through consistent, convenient, transparent, and responsive customer experiences, which subsequently strengthen customer trust in the company’s competence, integrity, and reliability. Trust developed continuously over time fosters relationship commitment and increases customers’ willingness to maintain, expand, and further develop their business relationships. The study concludes that long-term business relationships result from a systemic process that begins with service ecosystem integration and progresses toward the development of trust and relationship commitment. Insurance companies are therefore recommended to strengthen cross-functional governance, data and process integration, channel continuity, customer journey management, and the alignment of customer experience indicators with customer retention and business relationship development.</em></p> Agung Kurniawan Copyright (c) 2026 Agung Kurniawan https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/69 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000 TRANSFORMASI DIGITAL DAN MANAJEMEN SUMBER DAYA MANUSIA DI PT ASURANSI HEBAT TIMUR TANTANGAN MINDSET KARYAWAN YANG BERORIENTASI KUANTITAS TERHADAP KUALITAS PENERBITAN POLIS https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/71 <p><strong>Bahasa Indonesia</strong></p> <p>Penelitian ini bertujuan menganalisis tantangan transformasi digital yang dihadapi PT Asuransi Hebat Timur terkait mindset karyawan yang mengutamakan kuantitas dibandingkan kualitas dalam proses penerbitan polis asuransi. Transformasi digital merupakan keharusan bagi industri asuransi untuk meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing, namun seringkali terhambat oleh resistensi karyawan dan ketidaksiapan organisasi. Penelitian ini menggunakan metode studi kasus kualitatif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan analisis dokumen perusahaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mindset karyawan yang berorientasi pada target kuantitatif (jumlah polis terbit) tanpa memperhatikan kualitas underwriting dan kelengkapan dokumen merupakan dampak dari kurangnya change management, pelatihan digital, dan budaya organisasi yang tidak mendukung inovasi. Rekomendasi yang diajukan meliputi implementasi strategi change management berbasis komunikasi dua arah, pengembangan program pelatihan digital secara berkelanjutan, dan perubahan sistem insentif yang menyeimbangkan indikator kuantitas dan kualitas penerbitan polis.</p> <p><strong>&nbsp;</strong></p> <p><strong>Bahasa Inggris</strong></p> <p>This study aims to analyze the digital transformation challenges faced by PT Asuransi Hebat Timur related to employee mindset that prioritizes quantity over quality in the insurance policy issuance process. Digital transformation is imperative for the insurance industry to improve operational efficiency and competitiveness, but is often hindered by employee resistance and organizational unpreparedness. This research uses a qualitative case study method with data collection techniques through in-depth interviews, participatory observation, and analysis of company documents. The results show that the employee mindset oriented towards quantitative targets (number of policies issued) without considering underwriting quality and document completeness is a result of inadequate change management, digital training, and organizational culture that does not support innovation. Recommendations include implementing two-way communication-based change management strategies, developing sustainable digital training programs, and modifying incentive systems that balance quantity and quality indicators of policy issuance.</p> Hanang Romanto Copyright (c) 2026 Hanang Romanto https://creativecommons.org/licenses/by-sa/4.0 https://ejournal.gardapoli.or.id/index.php/deliberatif/article/view/71 Tue, 30 Jun 2026 00:00:00 +0000